FOUND: The most adorable picture taken during the Shuttle Discovery’s final flight to Washington D.C.
(Photograph by Chip Somodevilla, Getty Images)
love this
Rem-i-nis-cence; The act or process of recalling past experiences, events
More? Visit the author's Facebook or Twitter.
See all of Pradita Seti Rahayu's post
FOUND: The most adorable picture taken during the Shuttle Discovery’s final flight to Washington D.C.
(Photograph by Chip Somodevilla, Getty Images)
love this
Printing batik at Batik Plentong, Yogyakarta, Indonesia.
(by stewiedewie)
The condition. Yeah, I’m on it. Denial.
Whisnu Tri Wibowo, Dosen.
(dalam salah satu pertemuan kuliah Pengantar Media dan Kajian Budaya, Selasa 29 Februari 2012)
Anonymous asked: Hai, Dit. Jika ditarik kesimpulan, tumblr-mu ini bercerita tentang apa? Atau... tentang siapa? :)
Tentang, hmmm, hidup. Siapa? Siapa aja yang bersinggungan sama hidup saya. Hehe. Yang memang ingin saya bookmark di hidup. #aihsedap
cacingedance replied to your post: Re: Do (Not) Talk to Strangers
ahahaha, iyaa:p bitiwi ceu, itu gimana sih cara bales replay, kok aku gak perah bisa??? #norak #gaptek
Tinggal di Copy aja ceu di “Add a Text Post”. Terus jawab deh di bawahnya :p
cacingedance replied to your post: Do (Not) Talk to Strangers
gue juga beberapa kali ketemu supir angkot yang baik parah di bandung dan di jakarta ahahha pengalaman seru dan banyak hikmah yang bisa dipetik juga, btw, itu kesimpulan yang terakhir setuju tuh, bpk itu menemukan siapa diri lo yang sebenarnya ahahha
Hihihihi. Kadang-kadang kita suka termakan stereotip kalau orang asing pasti jahat. Jadi, suka nggak sadar kalau sebenernya kadang-kadang seru banget ngobrol sama orang asing. Plus kata lo, banyak pengalaman seru dan hikmah yang bisa dipetik juga. Hehe. YOI! Gue jadi tau siapa gue sebenarnya. Terharu :”>
Ngobrol sama strangers kadang-kadang menyenangkan. Apalagi kalau si strangers enak diajak bincang-bincang ngalor-ngidul. Kayak Pak Supir Angkot 02 jurusan Pondok Labu - Lenteng Agung tadi.
Jadi, gue baru balik dari rumah temen gue di daerah Pondok Labu sekitar jam tujuh malam. Tujuan gue adalah Stasiun Lenteng Agung biar langsung naik kereta, cus deh ke Bogor. Untuk sampai ke stasiun itu, gue harus naik angkot 02 merah. Nah, angkot yang gue naikin ini masih kosong melompong. Atas petuah abang ojek yang super baik hati, gue duduk di samping pak kusir yang sedang mengendarai kuda supaya baik jalannya. Eh. Maksudnya, duduk di samping Pak Supir.
Awalnya awkward. Lalu, si Bapak mulai membuka pembicaraan. “Mau naik kereta, Neng? Pulang kemana?”. Begitu. Obrolan mulai lancar. Dia tanya rumah gue di mana, kerja apa kuliah, dan dia kaget karena rumah gue di Bogor dan gue masih di Pondok Labu jam segitu. Ah ya, dia juga tanya gue kuliah di mana dan jurusan apa. Pas gue sebut gue ambil Komunikasi dan belajar Jurnalisme dia bingung. “Saya bingung. Jurnalistik kalau di perguruan tinggi itu belajarnya apa sih? Kalau teknik apa bisnis mah saya tau ada teori-teori gitu yak yang bisa dipelajari. Kalau wartawan, emang apa yang bisa dijadiin teori, Neng?”. Pemikiran Bapak ini menarik. Ya, gue ceritakan aja apa yang dilakukan di jurusan gue. Gimana profesor-profesor Komunikasi di UI dan lain sebagainya. Seru.
Gue juga nanya ke si Bapak. Rumahnya di mana, punya anak berapa, kalau narik angkot dari jam berapa. Dia menceritakan kehidupan beliau yang nggak seberuntung yang lain. Dia punya anak empat. Istri pertamanya sudah meninggal. Sekarang dia tinggal sama istri baru yang punya anak dua. Jadi, dia punya enam anak yang harus dia tanggung nafkahnya. Plus istrinya dong. Gara-gara itu, setiap hari dia mulai cari duit dari jam setengah enam pagi sampai jam setengah 9 malam. Bolak-balik Pasar Pondok Labu-Lenteng Agung.
Dia juga cerita. Anaknya yang ketiga itu bandelnya kebangetan. Padahal perempuan dan baru kelas 5 SD. Dulu waktu anaknya itu masih TK, kalau mau berangkat sekolah pasti berantem dulu sama almarhum istrinya. Anak metal sih ini kayaknya.
Si Bapak ternyata asli dari Cirebon. Cuma udah tinggal di Jakarta dari tahun 1960-an. Beliau juga nanya gue orang mana. Setiap ada orang yang tanya gue orang mana, honestly gue bingung jawabnya gimana. Jadi, jawaban gue adalah seperti ini: “Saya tinggal di Bogor, Pak, dari TK. Sebelumnya saya tinggal di Bandung. Ayah sama Ibu dulu tinggal di Bandung”. Lalu, ditanggapi sama si Bapak, “Oh, jadi asli Sunda dong?”. Dan gue (masih) bingung menjawab, “Enggak juga sih, Pak. Kakek dari Ayah itu orang Solo asli, tapi Nenek dari Ayah itu Batak. Kalau Kakek dari Ibu orang Yogya, sedangkan Nenek dari Ibu Jakarta-Belanda”. Jadi, gue bingung. Sebenernya gue orang apa. Semacam campuran mungkin. Si Bapak terdiam agak lama. Kemudian dia tiba-tiba nyeletuk, “Ah kalau gitu kamu orang Jawa. Kakek kamu dua-duanya dari Jawa kan, Neng.”
Jadi, gue orang Jawa. Hahaha.
Random, ya? Bahkan gue nggak tau siapa nama si Bapak itu. Dia baik sekali. Nawarin gue aqua gelas sama gorengan yang dia punya. Dan berbicara dengan orang asing seperti tadi membuat gue banyak berpikir, sadar, dan tertampar untuk bersyukur. Ah iya, dia pun membantu gue menemukan siapa gue sebenarnya. Hahahaha. Yang terakhir berlebihan.
———-
Banting tulang pagi malam buat anak-anaknya. Hhhh. Usaha gue buat ngebalas kerja kerasnya Ayah sama Ibu masih nol banget. Nol. Kosong.
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional dan Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2011, dalam kurun waktu kurang dari dua dekade, jumlah perokok aktif di Indonesia mengalami peningkatan hampir mencapai dua kali lipat. Pada tahun 1995, perokok aktif di Indonesia berjumlah 34,7 juta perokok dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 65 juta perokok.
Saat ini rokok tidak hanya dikonsumsi orang dewasa tetapi juga sudah menjadi konsumsi kalangan remaja. Jika pada tahun 1995 hanya 7 persen remaja Indonesia yang merokok, lalu 12 tahun kemudian meningkat menjadi 19 persen. Data ini tentu tidak mengejutkan, bahkan setiap harinya pun kita dapat menyaksikan secara langsung betapa banyaknya mahasiswa FISIP yang mengkonsumsi rokok.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh “Diivisi Kajian, Riset, dan Dokumentasi FISIPERS” yang dimuat di buletin FISIPERS edisi ke-23, dapat dilihat bahwa rokok bukanlah hal yang asing bagi mahasiwa FISIP. Menurut data yang disajikan dalam riset tersebut, hanya sebagian kecil perokok yang merasa bersalah saat merokok di sekitar orang yang tidak merokok. Mahasiswa lain yang tidak merokok juga tidak semua dari mereka yang merasa terganggu dengan banyaknya perokok di FISIP.
Mengacu kepada riset terdahulu, riset ini bertujuan untuk menggali lebih dalam makna rokok itu bagi mahasiswa FISIP UI itu sendiri. Riset ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara tak terstuktur terhadap dua informan yang merupakan perokok aktif.
Informan pertama adalah BS, mahasiwa FISIP angkatan 2010. BS sudah merokok sejak kelas 2 SMA, jadi kurang lebih dia sudah menjadi perokok aktif selama 4 tahun. Menurut BS, awal mulanya ia merokok disebabkan karena stress masalah sekolah. Pada saat itu teman BS menawarkan rokok sebagai obat stress, akhirnya lama-kelamaan BS menjadi tergantung pada rokok.
Rokok menurut BS seperti obat penenang yang mampu memberi efek lega ketika BS sedang dalam keadaan yang rumit. Misalnya ketika banyak tugas atau menjalang UTS dan UAS. Namun dalam keadaan tidak tertekan BS juga tetap merokok, meskipun intensitasnya tidak sebanyak ketika sedang ada masalah. Biasanya dalam sehari BS bisa menghabiskan 10-16 batang rokok.
Menurut BS, hal yang membuat dia nyaman dengan rokok lebih kepada rasa atau ‘taste’ dari rokok yang dihisapnya, bukan merk rokoknya. “walaupun rokok gue rokok tukang, tapi rasanya ga ada yang ngalahin, ngisap rokok itu udah kayak ngisap udara seger”, jelas BS. Berdasarkan pernyataan tersebut, terlihat bahwa rokok jenis apapun mampu memberikan kepuasan atau sensasi tersendiri bagi dirinya. Dalam kaitannya dengan hal ini, merokok lebih merupakan cara memuaskan kebutuhan psikologis. Sayangnya, banyak orang tidak sadar kebutuhan psikologis apa yang membuatnya membutuhkan rokok.
Informan kedua adalah IS, mahasiswi FISIP yang juga angkatan 2010. Meskipun perempuan, IS lebih berpengalaman daripada BS dalam hal merokok. IS sudah merokok sejak kelas 3 SMP. Awalnya ia hanya mencoba-coba rokok orang tuanya namun setelah duduk di bangku SMA, IS menemukan lingkungan yang menurutnya turut andil dalam membentuknya menjadi perokok aktif. Dari sini, terlihat bahwa perilaku merokok yang dilakukannya jelas karena pengaruh lingkungan sosial. Hal ini pun senada dengan pemikiran Lewin (Komalasari&Helmi, 2000), di mana ia mengatakan bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan faktor lingkungan.
Rokok bagi IS adalah seorang teman setia, karena ia merasa nyaman setiap kali ia mengisap rokok. “Kalo lagi sendiri atau bingung mau ngapain biasanya gue ngerokok, rokok tuh kayak teman gitu, gw jadi merasa ada temannya kalo gw lagi ngerokok” jelas IS. Karena itu, IS tidak bisa pergi kalau tidak ada rokok di tasnya. “gue ga bawa rokok tuh cuma kalo pergi ama keluarga doang, klo yang lain-lain gw selalu bawa, kalo ga bawa kayak ada yang kurang gitu”,tambah IS menuturkan.
Dari kedua informan yang diwawancarai,tersebut, terlihat bahwa rokok sangat bermakna bagi mereka. Mereka merasa rokok merupakan bagian dari hidup mereka karena mereka menganggap rokok sebagai temannya, selain itu rokok pun memberi kenyamanan dan sensasi tersendiri yang dapat memuaskan kebutuhan psikologisnya. (Divisi Kajian, Riset & Dokumentasi FISIPERS)
Jon McLaughlin - Summer Is Over (Live 7th Feb 2012)
“… felt you getting colder”
*meleleh*
Apa kata yang paling tepat untuk menggambarkan definisi sesuatu yang sangat amat keren parah banget tiada duanya tiada tara? KEREN. Ya Alloh.
Mereka menamakan dirinya “The Piano Guys” dan meng-cover lagu Without You. Without You-nya Usher Feat David Guetta loh. Meleleh, sob. Parah.
Di sini. Pertama kali.