Pemberi Memori
“Halo. Selamat jumpa,” kata si perempuan dalam hati.

Sama-sama menengok, mata bertemu, lalu sama-sama memalingkan wajah. Kegiatan paling normal di jagat raya ini. Apalagi ketika kedua pemilik mata tak mengenal satu sama lain.
Minus seribu tiga ratus menit yang lalu. Di sebuah angkutan perkotaan, si laki mengalami kegiatan itu bersama si perempuan. Mata si laki menengok, bertemu, lalu berpaling. Mata si perempuan pun begitu. Menengok, bertemu, lalu berpaling.
Tapi. Si perempuan seperti terkena setruman satu detik setelah berpaling. Si perempuan terdiam. Mencerna. Mengingat. Lalu, menengok lagi.
Si perempuan sangat mengenal wajah ini.

“Ibu! Ayok cepat! Nanti aku terlambat!” kata si perempuan kepada Ibunya sambil bercermin di depan jendela rumah.
“Nanti aku terlambat, Bu.. Tak bisa melihat si laki mengantar adik-adiknya ke depan kompleks,” kata si perempuan. Tentu dalam hati.
Si perempuan, berseragam putih biru, siap-siap memasuki kendaraan. Ibunya akan mengantar sampai depan kompleks. Rutinitas setiap pagi.
Hanya saja, ibunya tidak tahu - atau pura-pura tidak tahu - kalau si perempuan menantikan momen yang sama setiap pagi: Melihat wajah si laki. Itu rutinitas yang sesungguhnya.
Si perempuan juga punya rutinitas lain. Setiap ada panggilan ibadah setelah matahari tenggelam, si perempuan sudah sigap duduk di jeruji jendela rumahnya. Menanti si laki berjalan. Dari rumahnya yang berjarak empat kali rumah ke tempat ibadah.
Umur 13 tahun. Si perempuan belum paham apa itu kasih sayang. Yang disayangkan, ia cuma ingin melihat wajah si laki. Itu saja. Itu saja supaya pipinya merona merah, lalu garis senyum membentang di antara dua telinga. Tak mau ketinggalan, jantung ikut berdansa.

Si perempuan sangat mengenal si laki. Kebahagiaan seakan membuncah. Tak peduli saat orang lain bilang “kiri ya” atau “stop di depan, bang”. Ia lebih peduli mengadakan reminisensi. Ia mengingat-ingat betul setiap pertemuan rasa bahagia dengan wajah si laki.
“Sudah lama sekali tak berjumpa, sayang.” kata si perempuan. Mengasihani di dalam hati.
Si perempuan, sepanjang perjalanan ke kompleks mereka, terus-terusan takjub dan tak habis pikir. Tak percaya dirinya dipertemukan lagi. Menengok, berpaling. Melihat jalan. Menengok, berpaling. Pura-pura melihat penumpang lain. Menengok, berpaling. Begitu terus. Sampai tiba waktunya si laki berucap pada pengendara angkutan. “Stop di depan ya, Pak”.
Si perempuan sadar. Ia juga harus berhenti. Berhenti dan menyudahi reminisensi.
Si laki, cuma berpaling. Hanya layar ponsel yang ia beri perhatian. Bukan si perempuan. Toh tak ada memori. Yang merasa dipertemukan hanya si perempuan saja. Karena, memang tak ada perkenalan maupun perbincangan resmi di antaranya.
Mungkin di layar ponsel si laki sedang bersenda gurau dengan si perempuan, yang lain.
Tanpa ada maksud mengulang perasaan. Si perempuan hanya mengingat tiap kenangan. Lalu, selesai. Si perempuan melanjutkan kehidupan.
Sampai jumpa di lain hari, salah satu pemberi memori.










![Proudly present, my family! :]](http://25.media.tumblr.com/8960e41359cc40705547fb80d8f7521c/tumblr_mni0x4Fygd1qbt4tho1_1280.jpg)

